D
|
i
liburan semester I ini aku bingung untuk menentukan kemana aku pergi. Ada 2
acara yang membuat aku bingung menentukkan pilihan. Sementara itu, aku sendiri
ingin pulang ke kota asalku yaitu jambi, ya benar jambi. Disamping itu aku juga
harus mengikuti acara organisasiku di sekolah
untuk melaksanakan DIKLATSAR. DIKLAT ini wajib dilaksanakan oleh semua calon anggota
yang ingin menjadi anggota KPGR LG MAN 1 dan sementara itu hanya dilaksanakan 1
tahun sekali. Akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti DIKLAT KPGR LG ke XIII. Meskipun
kedua orang tuaku harus bersabar menunggu kedatanganku di liburan semester II
atau lebaran nanti. Aku sebenarnya berat untuk memutuskan kemana aku harus
pergi. Tapi tetap kubulatkan tekad untuk berangkat ke ndeles, klaten. Di ndeles
ini lah aku dilantik untuk menjadi anggota KPGR LG. dan mental
yang kuat serta kesabaran yang lebih. Kami berhasil sampai ke titik-titik yang
sudah ditentukkan walau beberapa kali kami tersesat. Kami puas setelah melihat
pemandangan alam yang sangat luar biasa. Pendidikan ini berlangsung selama 4
hari 3 malam. Acara inti pun segera dimulai yaitu pelantikkan. Dan disitullah
awal aku mulai resmi menjadi anggota KPGR. Bukan hal mudah untuk mendapatkan
dan dilantik pada saat itu. Senyum bahagia yang hanya keluar dari diriku dan
peserta pendidikan lainnya. Pagi hari kami melanjutkan perjalanan pulang menuju
Madrasah dan dari Madrasah kami pulang ke rumah masing-masing. Setelah sampai
kos, aku beristirahat. Selang beberapa hari aku menelfon ke nomor ibuku untuk
mencritakan semua yang aku alami saat pendidikan. Seperti keinginanku saat
berada di Deles Merapi. Dengan nada yang sangat gembira aku sampaikan cerita
itu kepada ibuku.
Awalnya aku berfikir disana
aku akan bergembira ria. Tebakkan ku meleset, aku tidak berfikir sama sekali
ternyata aku disana di beri pendidikan yang luar biasa, pendidikan yang belum
pernah aku dapatkan oleh siapapun dan dari siapapun. Disana aku belajar
bagaimana cara menghargai waktu, alam, teman, diri kita sendiri dan menjaga apa
yang telah diciptakan serta diberikan oleh Allah ke pada kita. Kita belajar
bukan dari orang yang melantik kita tetapi kita belajar dari diri kita sendiri
dan Alam. Aku di beri suatu amanah yang harus aku jaga sampai pendidikan
selesai. Syukurnya amanah itu bisa aku jaga sampai Pendidikan selesai. Di setiap
sela-sela kesibukkanku, pikiranku selalu tidak lepas dengan keluargaku yang ada
di jambi. Rasanya aku ingin pulang pada saat itu. selesai pendidikan ini,
banyak cerita yang harus aku sampaikan kepada ibuku. Aku beserta kelompokku
berhasil menghadapi rintangan yang ada serta tugas yang diberikkan. Pendidikan
ini memang butuh tekad, fisik
10 hari setelah pendidikan aku
menerima kabar yang menyedihkan. Aku mendapatkan kabar ini dari temanku bahwa
ayahku sedang sakit keras dan sudah dirawat selama 9 hari di salah satu rumah
sakit. Berarti sama halnya saat aku melaksanakan DIKLAT. Aku tak kuasa menahan
air mataku saat mengetahui informasi itu. Ada rasa kecewa terhadap kedua orang tuaku dan keluargaku mengapa
mereka tidak memberitahukan ini semua sejak awal. Aku sempat memarahi ibu dan
ayahku, walaupun rasanya aku telah melakukkan dosa yang sangat besar karena
telah memarahi mereka. Mereka melontarkan berbagai macam alasan agar aku tidak
marah dan merasa kecewa lagi. Yang anehnya lagi kenapa aku tidak curiga selama
aku menelfon ibuku aku tidak pernah mendengar suara ayahku dan saat aku bertaanya
kepada ibu, ibuku hanya menjawab bahwa
ayahku sedang keluar rumah. Ternyata ayahku sedang terbaring lemas di atas
kasur rumah sakit. Penyakit ayahku ini termasuk penyakit yang tergolong parah.
Dia sudah sejak lama menderita penyakit Diabetes. Tetapi baru-baru ini
penyakitnya kambuh. Gula darahnya naik drastis, kakinya membengkak merah dan
badannya tidak bertenaga itu yang aku ketahui dari temanku.
Sekarang ayahku sudah membaik.
Setelah rutin meminum obat dari dokter dan melakukkan cek 1 minggu sekali.
Tanpa aku sadari ternyata aku sangat sayang kepada ayahku, padahal bila dirumah
aku selalu melawannya dan aku mengharapkan dia lenyap dalam hidupku. Dari dulu memang aku tidak pernah akur
dengannya. Dulu aku selalu berburuk sangka dengan ayahku. Mungkin selama aku
hidup aku memang jarang mendapatkan sosok seorang ayah. Ayahku sangat sibuk, ia
lebih mementingkan pekerjaan dan hobinya dari pada keluarganya. Aku selalu iri
kepada teman-temanku yang setiap berangkat sekolah diantar oleh ayah atau ibu
mereka. Selalu diperhatikan oleh ayah mereka. Sedangkan aku jarang sekali
mendapat perilaku seperti itu. Serasa seperti hidup sendiri. bila hari libur
aku baru bisa bertemu dengan ayahku atau saat dia dirumah aku hanya bias bertemu di
malam hari. Kejadian itu terus menerus berlangsung sampai akhirnya aku
berpiukiran bahwa aku tidak akan pernah membutuhkan sosok ayah. Menurutku sosok
ayah hanya bisa dinikmati oleh orang yang beruntung dan tentunya aku tidak
masuk dalam golongan tersebut. Semua keluargaku memang sudah mengetahui bahwa
aku dan ayahku tidak pernah ada kecocokan walaupun ayahku selalu ingin
mengambil hatiku. Tetapi tetap saja aku membencinya. Ayahku tidak sadar akan
keinginanku yang sebenarnya, bukan mainan, baju atau pun makanan yang aku
inginkan tetapi kasih sayang serta perhatian yang selalu aku dapatkan dari
kedua orang tuaku. Dari kecil hingga besar aku dan kakak perempuanku lebih
dekat dengan ibu daripada ayah. Saat kakakku kelas 6 SD dia melanjutkan
pendidikannya di Jogja dan tinggalalah aku sendiri. Aku berpikir mungkin
setelah kakaku pergi aku makain tambah diperhatikkan terhadap keluargaku.
Lagi-lagi salah tebakkanku. Ayah ku tetap saja sibuk dengan pekerjaannya.
Saat aku memasuki Sekolah
Menengah Atas. Aku semakin nakal dan berani kepada ayahku. Aku seperti tidak
mengenal ayahku saja. Tidak pernah ada rasa takut sedikitpun hanya saja
tertinggal sedikit rasa segan karena aku masih memandang ibuku. Aku tidak mau
melihat ibuku sedih karena aku sangat menyayanginya. Ibuku mengaku bahwa
sebenarnya dia tidak sanggup melihat pertengkaran aku dan ayahku. Ibukku selalu
member nasihat dan semangat buatkku dan dia tidak pernah membela siapapun, dia
melihat semua keadaan dari dua sisi. Sosok ibulah yang selalu menjadi obat
berharga dalam hidupku. Sampai akhirnya aku mengalami peristiwa yang luar biasa
rumit akibat kenakalanku. Aku sempat berurusan dengan polisi tapi untunglah aku
beruntung dan terbebas dari masalah itu. Melihat tingkah dan ulahku semakin
menggila ayah ku memutuskan untuk pindah pekerjaan dan mengurangi semua
hobinya. Dia mengetahui semua kenakalanku dari anak-anak buahnya. Ayahku tidak
berani untuk memarahiku mungkin dia sadar ini sebagian dari kesalahan dia
sendiri.
Setelah kejadian ini aku baru
menyadari ternyata aku sangat mencintainya dan menyayangi. Ternyata dia sangat
penting dan berharga dalam hidupku. Liburan ini menurutku liburan yang paling
berharga dan menantang. Aku mendapatkan banyak sekali pelajaran. Banyak yang
harus aku perbaiki dan harus aku pertahankan lagi. Aku juga bertekad ingin
memperbaiki hidupku agar menjadi lebih baik lagi.
